Total Pageviews

Tuesday, September 11, 2018

Empat Langkah Mudah Analisis Hasil Wawancara Mendalam

Dalam penelitian kualitatif, peneliti melakukan pengumpulan data yang salah satu tekniknya adalah dengan indepth interview atau wawancara mendalam. Terkadang peneliti merasa kesulitan untuk melakukan analisis hasil wawancara mendalam. Oleh karena itu, penulis akan memberikan contoh yang aplikatif dalam melakukan  data collection, data display, data reduction dan conclusion. Penulis mempelajari langkah analisis ini dari seorang dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga yaitu Bapak Dr. M. Bagus Qomaruddin, drs., M.Sc.

Prinsip-prinsip analisis data kualitatif hasil wawancara saya rangkum dalam 4 (empat) langkah sebagai berikut :

  1. Membuat transkrip hasil wawancara
  2. Mengelompokkan jawaban responden
  3. Membuat rekapitulasi jawaban responden
  4. Menyimpulkan jawaban dan pembahasan

Penulis akan memberikan contoh mengenai hasil wawancara mendalam dengan tema stress di tempat kerja. Agar mudah dipahami, penulis akan mengambil 3 responden untuk dianalisis. Hasil wawancara ini hanya sekedar contoh dan kebetulan menggunakan bahasa santai dan informal. Bagi kawan-kawa yang berasal dari luar jawa, semoga bisa memahami. hehehe....

Oke, saya mulai rinci step by step.


Step I : Membuat Transkrip Hasil Wawancara 

Pada tahap ini, peneliti menuliskan hasil wawancara apa adanya. Agar tidak kehilangan kata demi kata, sebaiknya pada saat wawancara, peneliti perlu menggunakan alat perekam suara baik smartphone, tape recorder dan lain-lain. Berikut ini contoh hasil transkrip wawancara mendalam


Transkrip Wawancara Responden Pertama
Nama
Dialog
H
panjenengan tahu gak pengertian stress itu apa sih? Yang panjenengan tahu
B
stress itu saat menerima keadaan yang tidak sesuai dengan harapan
H
selain itu kira-kira? Apa sih yang membuat kita itu stress? Selama ini apa yang membuat panjenengan di sungram merasa stress?
B
Langsung contoh rill ndak opo-opo ya? Ndak harus di…
H
ndak apa-apa, sebanyak-banyaknya ndak apa-apa
B
kalo di sungram itu yang pertama biasanya ada kebutuhan mendadak kan, itu waktu rapat tidak pernah diusulkan, tapi saat kejadian harus dilaksanakan. Itu kan gak papa, tapi kan yang bikin stress itu nek misale nyebut-nyebut, oh iki perencanaan sing salah. Nah itu yang bikin stress. Kalau ada kesalahan, kesalahan ditimpakan ke perencanaan.  Yang kedua itu nek misale…. Iki sing pelaporan yo… kita dihadapkan pada saat kita disuruh melakukan yang tidak sesuai dengan kemampuan, iku stress aku wis. Terus… banyak si sakjane. Terus mari ngunu iku, pada saat kita ada orang bertikai atau pokoknya di tengah-tengah konflik kita di tengah tengah, gak melok konflik tapi kenek awune, atau imbase gitu.
H
apa sih kira-kira ciri-cirine atau gejalane kalo panjenengan merasa stress?
B
gejalane kalo saya mengalami stress?
H
Iya
B
gejalane kalo saya merasa stress biasanya gak mood kerja. Terus misale sakjane buka excel opo mbuka word ngunu mbuka mbuka liyane. Wis kayak golek pelampiasan ngunu Mas..gak nggarap ikulah, itu yang pertama.  Terus yang kedua itu jadi gelisah kalo saya stress, bingung iki, bingung iki, onok wae sing digelisahno. Terus sing ketiga, ciri-cirine lek lagi stress itu opo yo.. maleh pendiem ngunu lo.. dan susah untuk fokus.
H
sering begitu ya?
B
nek saiki wis mulai tahap diseneni ya wis, disalahno ya wis. Wis mulai let it go lah.
H
nah itu hubungannya dengan yang ke 4. Untuk meredakan stress, Apa yang panjenengan lakukan?
B
susah se sakjane. Tapi yen menurutku, tapi belum pernah aku lakukan, mencoba aku lakukan. Yen onok masalah iku ojo langsung panik, tapi meneng sik, dipikir sik. Kadang gitu kan kalo masalah terus langsung nang solusine salah semua malah, salah kaprah. Sakjane sing bener itu jangan langsung panik, tapi dipikir dengan kepala dingin, tapi itu saya belum bisa melakukannya sampek sekarang. Terus yang kedua, biasane aku tak critakan ke temen, be’e ono pandangan liyo, engko iso minta solusi. Aku pasti share aku
H
di rumah apa yang dilakukan untuk meredakan stress?
B
oh kalo dirumah, pasti cerita ke suami. Soalnya kadang, wong apalagi aku punya anak, wong kadang anak kecil lagi ngerik lagi lapo, lek aku stress kan gak sepenuh hati menenangkan, cerito ke suamiku. Tapi kalo ke ibu wis jarang. Ya itu wis yang kulakukan.
H
berhasil gak, kira-kira selama ini?
B
yang mana? Solusinya?
H
iya
B
berhasil untuk meredakan stress, tapi gak berhasil untuk meredakan masalah. Hehehe tapi kan ini kan meredakan stress. Kalo berrhasil meredakan stress sih berhasil, yen masalah ya tetep ada. Berhasil sih.
H
cukup itu aja mbak. Terima kasih

Transkrip Wawancara Responden Kedua
Nama
Dialog
H
menurut panjenengan, yang panjenengan ketahui tentang stress itu apa sih sebenarnya? Pengertiannya atau definisinya?
E
eehh, sesuatu sing membebani, sesuatu yang mungkin kadang gak nyata nampak tapi gak kita pikirkan tapi tiba-tiba mempengaruhi kondisi tubuh. Soale tiba-tiba gak semangat untuk kerja, malas berangkat ke kantor di pagi harinya, opo paling nggak, lek sing lebih anu lagi, tiba-tiba merasa gak enak badan gitu.
H
apa yang kira-kira membuat njenengan stress di kantor?
E
di kantor? Iyo sih mas, tapi kalo dibandingkan dengan kerjaanku yang dulu, ini ndak banget. Masalahnya dulu yang menyebabkan aku stress banget itu kalo di kerjaanku, ketika aku harus berangkat lebih awal, sedangkan ninggal kondisi rumah dalam kondisi yang anak-anak belum siap itu, aku stressnya disitu.
H
kira-kira pernah gak kalo disini?
E
kalo disini belum dalam tahapan yang parah. Cuman mungkin ada beberapa hal koyok misalkan pekerjaan sing, inikan dunia baru di sungram. Ndisik aku kan ndak berhubungan sing tentang uang, sing tentang gitu-gitu. Kalo ini kan lebih apa ya… pekerjaan ini kan lebih kontak dengan pimpinan, dengan pejabat-pejabat yang lebih sering kan ya…kalo dulu kan gak terlalu.
H
selama ini pernah merasa tertekan gak? Seperti merasa malas bekerja..
E
ndak sih, belum…
H
kalo di tempat yang dulu?
E
kalo dulu itu aku… ini.. apa.. aku kan yo karena jarak yang jauh itu, jadi aku dulu itu memang sempat nek pulang itu mesti awal gitu kan. Kan mesti ada pro kontra ya.. dari teman kerja… dirasani dan lain-lain. Padahal yang menjadi atasanku itu orange menurutku gak keberatan sepanjang pekerjaanku beres. Tapi karena nek di dinkes kan kita sak ruangan itu terdiri dari beberapa seksi. Jadi nganggepnya kalo sering pulang awal pulang awal dianggep indisipliner. Dating telat, pulang awal dan lain-lain
H
terus, bagaimana cara panjenengan mengatasi agar itu reda
E
kalo aku itu, aku termasuk orang yang paling sering, bukan nyogok sih, tapi aku sering mbawa opo-opo jadi berusaha menjaga hubungan baik dengan mereka. Aku inget omongane atau nasihat bapakku agar  loman sama teman.
H
oke mbak Den terima kasih atas waktunya

Transkrip Wawancara Responden Ketiga
Nama
Dialog
H
Iya Mbak W, bisa dijelaskan yang dimaksud dengan stress menurut panjenengan itu apa?
K
Stress itu kenyataan tidak sesuai dengan harapan
H
apa kira-kira ciri-ciri stress yang panjengan rasakan selama ini?
K
gejala ya… deg-degan, khawatir, was-was, mondar-mandir, nggak fokus nggak fokus
H
apa yang membuat panjengan stress di kantor selama ini?
K
kalau di kantor lebih cenderung ke deadline. Pekerjaan yang saya gak bisa memenuhi itu. Atau laporan yang tiba-tiba diminta itu belum bikin.
H
sering seperti itu?
K
akhir-akhir ini sudah nggak. Pas pertama-pertama iya, karena istilahnya itu harus banyak belajar, saya juga belum faham, gak berani melangkah kalo saya belum paham sendiri.
H
selain itu yang membuat panjenengan stress?
K
iya, dengan pimpinan. Kalo dengan teman itu lebih santai sih… gk terlalu bikin stress. Yang bikin stress yang dengan pimpinan, dengan suami.
H
contoh kalo dengan pimpinan?
K
dengan pimpinan ya itu, ketika kita diminta data yang sebenarnya kita gak tahu misalnya. Maka kita stress disitu. Pimpinan gak mau tahu. Lagi misal kita gak tega melakukan teguran begitu ke karyawan, tetapi pimpinan minta tetap harus ditegur yang bersangkutan, tapi saya mau semuanya ditegur gitu (ndak hanya orang yg bersangkutan-red). Terus yang berhubungan dengan jabatan saya. Karena saya di bagian kepegawaian, mau – tidak mau harus memberikan contoh kepada staf yang lain. Dan itu saya tidak bisa memenuhi, itulah yang membuat saya merasa stress.
H
kalau suami hubungannya dengan kerjaan tadi?
K
kalau suami yang hubungannya dengan pekerjaan ya gitu… gak boleh lembur, gak boleh pulang telat. Padahal kita kalo kerja kana da tanggung jawabnya. Terus misalnya yang terakhir itu DL (Dinas Luar) gak boleh DL. Sehingga njelasin ke pimpinan itu ya membuat stress.
H
apa yang panjengan lakukan untuk bisa mengatasi stress
K
pertama, pertama sekali ya… Tarik nafas panjang. Jadi kalo saya lagi stress ya Tarik nafas panjang biar gak tambah stressnya  dan kondisi itu diterima.. kondisi itu diterima karena ini terjadi atas ijin Allah. Kedua melakukan antisipasi atau mencari solusi, menawarkan beberapa solusi kalau perlu ke pimpinan. Misal Pak saya gak bisa sekarang, tapi besok saya kerjakan. Tapi kalo sudah stress banget ya belanja.. hehehe.. selain belanja ya nyalon. Kalo ndengerin music saya jarang.
H
diantara solusi tadi, antara belanja dan nyalon, mana yang lebih efektif? Hehehe
K
yang lebih efektif belanja.
H
selain itu, cara mengatasi stress selain belanja, nyalon dan lain-lain
K
cara yang lain itu, curhat. Curhat ke orang yang tepat. Kadang kan, dengan curhat kan bisa lega. Itu cara yng terakhir kalau semua ndak berhasil.
H
terima kasih atas waktunya

 

Step II : Mengelompokkan Jawaban Responden

Dalam tahap ini, peneliti sudah mulai melakukan reduksi jawaban yaitu membuang kata-kata yang tidak perlu dan mengganggu. Selain itu juga dilakukan kategorisasi jawaban dan menyingkatnya menjadi kata kunci. Kategori jawaban bisa dikelompokkan berdasarkan pertanyaan, atau variabel penelitian dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya, bisa diperhatikan tabel berikut ini :


HASIL WAWANCARA
KATA KUNCI
A. Pengertian Stress Menurut Responden
B
stress adalah saat seseorang menerima keadaan yang tidak sesuai dengan harapan
·   saat menerima keadaan yang tidak sesuai dengan harapan
E
Stress antara lain adalah sesuatu yang membebani, sesuatu yang tidak nyata dan tidak nampak tapi mempengaruhi kondisi tubuh.
·   sesuatu yang membebani,
·   sesuatu yang tidak nampak/nyata tetapi mempengaruhi kondisi tubuh
K
Stress itu kenyataan tidak sesuai dengan harapan
·   saat menerima keadaan yang tidak sesuai dengan harapan
B. Penyebab Stress Sesuai Pengalaman Responden
B
Yang membuat stress adalah disebut sebagai pihak yang salah merencanakan padahal kebutuhan mendadak dan tidak pernah dibahas dalam rapat. Kalau ada kesalahan, semua ditimpakan ke perencanaan.  Kedua yang menyebabkan stress adalah saat kita diperintahkan memanipulasi data laporan. Yang ketiga saat ada orang bertikai, kita di tengah tengah konflik antara mereka, kita tidak ikut berkonflik tapi kena imbasnya.
·   menjadi pihak yang disalahkan,
·   melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani,
·   ikut terdampak konflik antar pegawai
E
Yang menyebabkan saya stress adalah ketika aku harus berangkat lebih awal, sedangkan meninggalkan kondisi rumah dalam kondisi yang anak-anak belum siap. Yang kedua  karena dijadikan bahan pembicaraan teman sekerja karena pulang lebih dahulu dari kantor. Sehingga dianggap indisipliner karena sering pulang lebih awal dan datang telat.
·   berangkat kerja lebih awal sedangkan kondisi anak belum siap,
·   dianggap indisipliner
K
Penyebab stress ketika kita diminta data yang kita belum pernah tahu tetapi pimpinan tidak mau tahu.  Yang kedua, ketika saya diminta pimpinan untuk menegur karyawan tetapi saya ingin menegur. Yang ketiga karena saya di bagian kepegawaian, tidak bisa memberikan contoh kepada staf yang lain. Selain ityang berhubungan dengan suami adalah tidak boleh lembur, tidak boleh pulang telat. yang terakhir tidak boleh dinas luar dan sulit untuk menjelaskannya kepada pimpinan
·   pimpinan tidak mau memahami kesulitan pegawai,
·   perintah pimpinan tidak sesuai dengan kehendak pegawai,
·   merasa tidak bisa jadi teladan,
·   suami melarang pulang telat,
·   suami melarang dinas luar
C. Gejala stress sesuai pemahaman responden
B
gejala stress yang biasa saya alami adalah tidak mood kerja. kemudian jika ingin membuka program excel atau word, tetapi membuka aplikasi lain. Seperti mencari pelampiasan dengan tidak mengerjakan pekerjaan tersebut. Yang kedua saat stress adalah merasa gelisah dan serba bingung. Yang ketiga, ciri-ciri kalau sedang stress adalah menjadi pendiam dan sulit untuk fokus.
·   tidak semangat kerja,
·   ingin menghindari pekerjaan sumber stress,
·   gelisah,
·   serba bingung,
·   menjadi pendiam
·   sulit untuk fokus
E
Tiba-tiba tidak semangat untuk bekerja, malas berangkat ke kantor di pagi hari, dan tiba-tiba merasa tidak enak badan.
·   tidak semangat kerja,
·   tiba-tiba merasa badan tidak sehat
K
gejala stress antara lain deg-degan, khawatir, was-was, mondar-mandir, tidak fokus-fokus
·   Jantung berdebar,
·   merasa khawatir,
·   mondar-mandir,
·   sulit untuk fokus
D. Bagaimana pengalaman responden mengatasi stress
B
Jika ada masalah, tidak langsung panik, tapi diam terlebih dahulu dan difikir dahulu dengan kepala dingin. Yang kedua, aku biasa menceritakannya ke teman, mungin ada pandangan lain,nanti bisa minta solusi. Aku juga selalu berbagi cerita dengan suami
·   berusaha tidak panik,
·   cerita ke teman,
·   minta solusi ke teman,
·   cerita ke suami
E
kalo aku itu, aku termasuk orang yang paling sering memberi, bukan maksud untuk menyuap, tapi aku sering mbawa sesuatu. Jadi, berusaha menjaga hubungan baik dengan mereka. Aku jadi inget kata ayahku untuk suka memberi ke sesama teman.
·   sering berbagi rizki ke teman,
·   menjaga hubungan baik dengan teman
K
Jadi kalau saya sedang stress, saya tarik nafas panjang agar tidak bertambah stress dan kondisi itu diterima. Kondisi itu diterima karena hal itu terjadi atas ijin Allah. Kedua melakukan antisipasi atau mencari solusi, menawarkan beberapa solusi kalau perlu ke pimpinan. Misalnya mengatakan "Pak saya tidak bisa sekarang, tapi besok akan saya kerjakan". Tetapi kalau sudah stress sekali, saya belanja. Selain belanja, saya pergi ke salon. Saya jarang kalau mendengarkan musik .
·   menenangkan diri,
·   menerima kondisi,
·   berusaha mencari solusi,
·   belanja,
·   pergi ke salon

  

Step III : Membuat Rekapitulasi Jawaban Responden

Dalam tahap ini, kata kunci dari jawaban responden direkap dalam sebuah tabel. Kata kunci kemudian diberi tanda warna untuk mengelompokkan jawaban yang sama maknanya. Berikut contoh tabelnya :

Pertanyaan
Responden 1 (B)
Responden 2 (E)
Responden 3 (K)
Pengertian Stress
saat menerima keadaan yang tidak sesuai dengan harapan
·   sesuatu yang membebani,
·   sesuatu yang tidak nampak/nyata tetapi mempengaruhi kondisi tubuh
saat menerima keadaan yang tidak sesuai dengan harapan
Penyebab Stress
·   menjadi pihak yang disalahkan,
·   melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani,
·   ikut terdampak konflik antar pegawai
·   berangkat kerja lebih awal sedangkan kondisi anak belum siap,
·   dianggap indisipliner
·   pimpinan tidak mau memahami kesulitan pegawai,
·   perintah pimpinan tidak sesuai dengan kehendak pegawai,
·   merasa tidak bisa jadi teladan,
·   suami melarang pulang telat,
·   suami melarang dinas luar
Gejala Stress
·   tidak semangat kerja,
·   ingin menghindari pekerjaan sumber stress,
·   gelisah,
·   serba bingung,
·   menjadi pendiam
·   sulit untuk fokus
·   tidak semangat kerja,
·   tiba-tiba merasa badan tidak sehat.
·   Jantung berdebar,
·   merasa khawatir,
·   mondar-mandir,
·   sulit untuk fokus
Cara Mengatasi
·    berusaha tidak panik,
·    cerita ke teman,
·    minta solusi ke teman,
·    cerita ke suami
·   sering berbagi rizki ke teman,
·   menjaga hubungan baik dengan teman
·   menenangkan diri,
·   menerima kondisi,
·   berusaha mencari solusi,
·   belanja,
·   pergi ke salon


Step IV : Menyimpulkan Jawaban dan Pembahasan 

Langkah terakhir adalah melakukan analisis hasil wawancara dan pembahasan. Dalam tahap ini, peneliti menyimpulkan kata kunci jawaban responden yang berdasarkan kesamaan warna pada tabel rekapitulasi. Kesimpulan dibuat dalam kalimat yang mampu merangkum kesamaan dan keragaman jawaban responden. Sedangkan pembahasan adalah mendiskusikan kesimpulan jawaban responden dengan penelitian lain ataupun teori yang terkait dengan topik yang dibahas. Berikut contoh analisis dan pembahasan.   

A. Pengertian stress 

Mayoritas responden menyatakan bahwa stress adalah ketika menerima sesuatu yang tidak sesuai kenyataan. Sedangkan sebagian responden yang lain menganggap bahwa stress adalah sesuatu yang tidak Nampak tapi mempengaruhi kondisi tubuh. 

Pengertian stress yang dipahami oleh para responden sesuai dengan interpretasi masing-masing mengenai kata “stress”. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Nelson dan Quick (2013) bahwa banyak interpretasi mengenai stress sesuai masing-masing orang yang menggunakan istilah itu. 

Konsep stress yang diterima umum telah diutarakan oleh McGrath (1976), hal ini karena McGrath merupakan perintis awal yang merumuskan bidang stress di tempat kerja. Dia mendefiniskan stress merupakan situasi dimana pekerja merasakan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki, di luar kebutuhan lingkungan kerja mereka. Artinya terjadi ketidak seimbangan antara kemampuan pekerja dengan kebutuhan lingkungan kerja. 


B. Penyebab Stress menurut pengalaman Responden 

Mayoritas responden menyatakan bahwa penyebab stress di tempat kerja adalah ketika harus melaksanakan perintah pimpinan yang tidak sesuai dengan kehendak dan nurani responden. Selain itu, penyebab stress yang lain cukup beragam antar responden antara lain menjadi pihak yang disalahkan, ikut terdampak konfilik antar pegawai, harus berangkat kerja lebih awal disaat kondisi anak di rumah belum siap, dianggap indispliner, pimpinan tidak mau memahami kesulitan pegawai, merasa tidak bisa menjadi teladan dan larangan suami untuk tidak pulang telat dan dinas luar. 

Penyebab stress di tempat kerja yang dirasakan responden, sejalan dengan apa yang diungkap oleh Karasek dan Theorell (1990). Penyebab utama stress di tempat kerja dalam kebanyakan organisasi di seluruh dunia adalah disebabkan oleh beban kerja yang melampaui kemampuan pegawai, masa bekerja yang panjang, kurangnya pendampingan, kerja yang monoton, konflik antar individu, kurangnya penghargaan dan masalah organisasi. Selain itu, faktor jarak rumah dengan tempat kerja juga dirasakan oleh mayoritas responden sebagai salah satu pendorong terjadinya stress karena berhubungan dengan keluarga. 


C. Gejala Stress 

Mayoritas responden menyatakan gejala stress yang selama ini dirasakan adalah tidak semangat kerja, sulit untuk fokus dan merasa gelisah/khawatir dan serba bingung. Gejala stress lain yang dirasakan oleh responden juga cukup beragam antara lain ingin menghindari pekerjaan sumber stress, serba bingung, menjadi pendiam, jantung berdebar dan tiba-tiba merasa badan tidak sehat. 

Gejala stress yang dirasakan oleh myoritas responden sesuai dengan pernyataan Nelson dan Quick (2013) berupa kemurungan, kelesuan dan gangguan psikosomatik. Psikologi yang terganggu secara berkepanjangan akan memberikan kesan ke atas fisiologi seperti sakit jantung, tekanan darah tinggi, kelesuan dan semisalnya. Mayoritas responden merasakan akibat dari stress yang mengarah pada kecenderungan melakukan kesalahan, penurunan kualitas kinerja, suasana kerja yang merosot (Jain, et al.,2012 ; Cox & Griffiths, 1995). 


D. Cara mengatasi 

Mayoritas responden mengatasi stress dengan cara menenangkan diri agar tidak panik. Selanjutnya, para responden mengatasi stress dengan cara yang cukup beragam antara lain menerima kondisi, menceritakan masalah ke teman untuk meminta solusi, menjaga hubungan baik dengan sering berbagi rizki ke teman, berusaha mencari alternative solusi untuk ditawarkan kepada pimpinan. Adapula di antara responden yang menghilangkan stress dengan cara pergi berbelanja dan ke salon. Cara mayoritas responden dalam mengatasi stress, sesuai dengan pendapat Ardi Ardani, Tri Rahayu dan Sholichatun (2007) mengenai strategi dalam mengatasi stress yaitu dengan memecahkan persoalan secara tenang. Beberapa aturan yang harus diikuti dalam mengatasi stress yang dikemukakan oleh Jere Yates dalam Rini (2002) juga dilakukan oleh responden seperti menerima diri sendiri apa adanya, tetap memelihara hubungan persahabatan yang baik dengan seseorang yang dianggap paling bisa diajak curhat, melakukan tindakan konstruktif dalam mengatasi sumber stress dalam pekerjaan, berusaha mempertahankan aktivitas yang kreatif di luar pekerjaan.

No comments:

Post a Comment